think like them
Berbicara tentang hubungan cowok, cewek…kaya’nya nggak pernah ada habisnya yah? mulai dari curhat,obrolan, sampe buku,chicklit dan film terilhami dari hal yang sama..
Ada satu buku karangan Greg Behendt&Liz tucillo (konsultan, penulis skenario Sex and The City) "Cintakah Dia padaku" Yang mengungkapkan kalau ternyata dalam setiap tahap hubungan pacaran, dari masa pedekate, sampai hubungan bertahun-tahun pun selalu ada tanda tanya kecil yg kadang mengganggu benak kita, "does she/he love me or not?"
From venus’s side, terkadang saya ngerasa sering mengarang - ngarang alias menebak sendiri alasan yang mungkin jadi penyebab kenapa pacar saya jadi berperilaku tertentu..
Kalo mengambil teori umum yang bilang cewek selalu lebih banyak menggunakan "perasaan" ketimbang "logika"…dan sebaliknya cowok lebih bermain "logika" sebelum berlanjut ke perasaan..( biarpun kadang ternyata banyak kasus yang berkebalikan!) Well’ let’s just say i’ve been there…
Mengikuti perasaan.
Ya saya pernah dibawa "Perasaan" ini pada krisis ke-tidak percayaa-an diri. Ketika perasaan saya membisikkan semua perlahan terasa berbeda dan percuma bertanya "ada apa" karena respon yang didapat adalah.."we’re fine". Dalam diam, dan menyimpulkan itulah..i’m startin’ to loose my grip
start to think i’m not attractive enough, try to work out at gym, and suddenly began more quite than i used to do, i’m pullin’ myself affraid to do something that might make thing’s between me and him even worst..even worst, i began to think it’s all my fault
Pada akhirnya memang sih, "logika" lah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk melepaskan apa yang kami punya, dengan segenap keteguhan yang datang tiba-tiba dalam 3 menit penuh diam..bahwa suatu hari hal yang sama akan berulang untuk esensi yang sama..
Dan satu fakta mengejutkan dari seorang kerabat dekat cowok yang cukup "laki-laki" bahwa ketika akhirnya dia memutuskan untuk menikah dengan pilihannya ( wanita yang di pacarinya selama setahun) walaupun di saat-saat terakhir sempat dihadapkan dengan pilihan lain yg "lebih" , benak-nya dipenuhi semua yang sangat berbau "logika". Menimbang siapa yang "cost&benefit"nya lebih masuk akal. Setelah menentukan pilihan, katanya barulah ia akan belajar untuk mencintai lebih lagi dari semua yg ada di wanita pilihannya itu..
And according to him, most of men think in more or less same perspective..(maaf, harap dicatat..nggak semua ya he3).
Dan karna memang sepertinya nggak ada hukum yang meng-ilegalkan kita untuk mencari yang terbaik (eh,bener ya nggak ada hukumnya?)
Saya mulai mencoba menggunakan perspektif yang sama untuk menemukan "the one" saya. Think like men, and act like a girl
Yaaa kenapa nggak sihh?
Mengevaluasi kebutuhan, menetapkan kriteria, menghitung cost&benefit tiap kandidat, dan kemudian mulai membuat list dan urutan…
Tapi tenyata, dengan segala keegoisan saya yang "cewek" banget.
Diantara keinginan dan usaha untuk mengutamakan segala logika, saya masih berperang dengan se-kecil "perasaan" . Yang masih berharap bahwa pilihan terakhir ( yang diambil dengan segala logika ) akan jatuh pada seseorang yang bisa membuat saya tidak akan pernah bosan untuk mengenalnya seumur hidup saya, dan begitu pula sebaliknya…
Seperti buku kesukaan saya yang setiap kali dibaca ulang dan dibuka tiap lembarannya , saya tidak akan pernah habis menemukan hal baru setiap membacanya kembali
a believe HE created us with many differences that makes us unique
and this article proof that i’m one of His creatures
Books |
Leave a Reply