rumahku

March 29th, 2007

rumah itu hampir jadi, sudah dibangun selama sekitar enam bulanan. Pondasi-nya kokoh walaupun dengan bahan seadanya. Aku percaya bahannya kualitas bagus, dan tukang yang aku sewa sepertinya juga berpengalaman dengan pahit manisnya sejarah bekerjasama dengan orang-orang yang pernah menyewa jasa-nya untuk membangun rumah..

kemudian, satu hari ada angin ribut yang datang, tidak terlalu dahsyat tapi entah kenapa bangunan yang hampir menyerupai rumah itu rubuh. aku hanya bisa melihat puing-puing sisa rumah impianku yang belum sempurna. aku bisa melihat sebongkah besar yang seharusnya adalah dinding yang nanti akan kupasang lukisan abstrak kesukaanku. Kemudian petak yang tadinya ku angankan menjadi ruang keluarga dimana aku melepaskan lelah setiap kali aku pulang lewat tengah malam…bersama, atau pun sendiri tanpa seseorang pun.

Ku butuhkan waktu lama merenungkan, siapa yang bertanggung jawab pada runtuhnya rumah impianku. Apa aku menyewa tukang yang salah? atau bahan yang aku beli itu ternyata bukan bahan yang sebagus ditawarkan si penjual, atau aku yang salah dari semula memutuskan membangun rumah di lahan yang baru saja aku beli tanpa melihat struktur tanah dan juga faktor geografisnya?

semakin berputar, aku memutuskan untuk meninggalkan puing yang tersisa dari rumah yang sudah aku bangun dengan sisa kepercayaan dan uang yang kusimpan sedikit-demi sedikit dari cucuran hati yang aku curahkan pada pekerjaan yang aku cintai..

aku meninggalkan reruntuhan yang masi berkokoh pondasi-nya..karena lelah dan merasa tidak sanggup lagi membangun rumah-ku dan kemudian melihat angin,gempa, atau apapun meruntuhkannya begitu saja…..aku..lelahhh..

setiap hari kulewati reruntuhan rumahku dengan pedih, dan sedikit berharap akan adanya keajaiban membantuku dengan tangan tak terlihatnya…dan setiap kali itu pun aku menyesali diriku yang selangkah demi selangkah menjauhkan diri dari impian terakhirku itu…tapi aku pun tidak melakukan apapun..terlalu takut untuk kecewa..

dan setiap kali aku melewati rute yang sama (yang pasti kulewati tiap hari di awal hariku) puing-puing dan pondasi rumah yang kubiarkan seperti adanya itu seperti berbisik kepadaku..

berbisik tentang kekecewaannya pada ku yang tak berjuang untuk membangunnya kembali, mendesirkan suara pedih yang tak terdengar…aku seperti tidak bergeming..

sekarang, aku berdiri di depan-nya..memegangi sekop dengan erat dan semenit lalu aku mulai menyendok satu sekop demi satu, membersihkan pondasinya dari sisa reruntuhan yang kini mulai menghijau dengan rumput yang mulai tumbuh…menyingkirkan sedikit demi sedikit sedihku, menahan gejolak yang kurasakan disetiap sendokannya..karena aku seperti merasakan marah dan bencinya sisa-sisa bangunan ini padaku..

seminggu, dua minggu..sekarang yang kuhadapi didepanku adalah satu petak luas lahan dengan pondasi yang masih kokoh..that is what left of my dream…dan kusadari aku mulai berbicara sendiri dengan pondasi pondasi itu memohon untuk merestui aku melanjutkan lagi mimpi ku yang masih ada padanya..

ya, mimpi pada sepetak tanah tak berbentuk lahan bersih seperti sedianya satu lahan yang akan dibangun. melainkan puing tak berbentuk lebih dari tiang-tiang tinggi. mimpi ku pada rumah yang sudah kupunya cetak biru-nya dipikiranku. dan mimpi itu tidak pernah banyak berubah….

mimpi yang sebegitu kuatnya hingga aku pun masih ingat detil dari semua posisi ruang, tangga, jendela, sampai letak terbaik dari kursi malas -nya..

aku berdiri di depan lahan-ku..yang tetap ada disana..ketika aku pergi, ketika aku kembali, sendiri, atau pun . . . .




One Response to “rumahku”

  1.   Mirisa on March 31, 2007 7:17 am

    Dear,
    I know how difficult all of these things for you…

    Rumahku, di sebuah lorong kecil bernama Nyak Keumala, dibangun pada saat Mamaku mengandung anak ketiganya, yakni pada tahun 1982…

    Dibutuhkan masa yang panjang untuk merubahnya menjadi “rumah idaman”, dari hanya bertipe 45 menjadi rumah yang memiliki cukup kamar untuk 6 anak yang berturut-turut lahir; 1978, 1979, 1982, 1983, 1989, 1999…

    Renovasi terakhir tepat sebelum kepulanganku pada Desember 2004…

    22 hari kemudian, aku tidak memiliki apapun, kecuali puing-puing yang hingga saat ini belum bisa aku bangun kembali…

    Tidak hanya rumah Datie…
    Musibah itu juga membawa serta Papa, Kak Titin, Dek Va dan Dek Odhye…

    It has been more than two years after the 2004 Great Indian Ocean Earthquake, but still I can’t rebuild it for my mother…

    Aku yakin, Tuhan punya sejuta rencana dengan impian indah “yang tertunda” itu…

    Keep fighting Datie,
    I do believe that GOD will always give you power to make all of your dreams come true…

    Love you

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind